Rabu, 13 April 2011

KEGIATAN FEATI MAROS TA. 2011

Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) Kab. Maros pada tahun ini telah memasuki tahun terakhir (closing date) tahun 2011. Seiring dengan itu Pengelola P3TIP/FEATI Kab. Maros telah berbuat semaksimal mungkin untuk melaksanakan berbagai hal dan kegiatan yang telah dilaksanakan di tahun – tahun sebelumnya. Hanya saja, kemungkinan masih terdapat beberapa kendala, kelemahan dan kekurangan – kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan yang dikelola. Namun demikian pengelola P3TIP/FEATI Kab. Maros terus berusaha dengan segala upaya untuk memperbaiki kelemahan dan kekurangan – kekurangan tersebut dengan bantuan dan bimbingan dari P3TIP/FEATI Propinsi Sul – Sel dan P3TIP/FEATI Pusat, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian RI.

Untuk tahun terakhir 2011, P3TIP/FEATI Kab. Maros mendapatkan dana DIPA sebesar Rp. 2.964.605.000,- yang diperuntukkan untuk membiayai kegiatan ; Dukungan terhadap Kegiatan Penyuluhan yang Dikelola oleh Petani (UP_FMA), Bantuan Sosial bagi UP-FMA, Penguatan Organisasi Petani, Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Petugas Penyuluhan, Dukungan Manajemen dan Evaluasi Program, Dukungan Pelaksanaan Program dan Pengadaan Peralatan.

Ir. Muhadir, MM selaku Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) P3TIP/FEATI Kab. Maros, mengatakan bahwa tahun 2011 tetap menitik beratkan pada kegiatan pemberdayaan petani melalui Unit Pengelola FMA atau yang biasa dikenal dengan Pos Penyuluhan Pertanian yang disingkat POSLUHTAN di 60 Desa se – Kab. Maros. Untuk pengelolaan kegiatan UP – FMA di Kab. Maros tetap mengacu pada 3 (tiga) cluster (kelas) kategori UP – FMA yaitu ; kelas A, B, dan C sesuai penilaian pada tahun lalu, tetapi tidak tertutup kemungkinan untuk penilaian kelas tahun ini bisa saja ada UP – FMA yang mendapatkan promosi naik kelas yang lebih tinggi atau bahkan turun kelas. Hal ini tergantung dari kinerja UP – FMA itu sendiri dengan pendampingan dari pembina Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Pada tahun ini juga akan diberikan Penghargaan bagi UP – FMA Teladan 1 – 3, terhadap UP – FMA yang berkinerja baik dan ini berarti bahwa akan terjadi kompetisi atau persaingan dalam pengelolaan kegiatan di UP – FMA Desa.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros, Ir. H. Burhanuddin, MM mengharapkan agar pada tahun terakhir Pengelola P3TIP/FEATI harus bekerja ekstra keras untuk mengawal kegiatan – kegiatan dan UP – FMA Desa. Ini dimaksudkan agar setelah berakhirnya kegiatan program P3TIP/FEATI, akan memberikan pedoman atau acuan bagi pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab. Maros untuk keberlanjutan kegiatan pemberdayaan petani yang nantinya akan dibiayai oleh daerah.

Selasa, 07 Desember 2010

TUDANG SIPULUNG (APPALILI) KAB. MAROS MT. 2010/2011

Bertempat di Aula Al – Markaz Al – Islami Kab. Maros tgl, 02 Desember 2010 dilaksanakan Tudang Sipulung Tingkat Kabupaten MT. 2010/2011 yang dibuka oleh Bupati Maros Ir. HM. Hatta Rahman, MM. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Badan/Dinas lingkup Pertanian Prop. Sul-sel, unsur Muspida Kab. Maros, Para Kepala SKPD, KTNA Prop, KTNA Maros, Stakholder Pertanian dan Penyuluh Pertanian serta Ketua Klp Tani/Petani se – Kab. Maros. Dalam arahannya Bupati Maros mengatakan bahwa Tradisi Tudang Sipulung yang dilaksanakan setiap memasuki musim tanam rendengan, adalah merupakan acara terpadu antara petani, pengusaha dan pemerintah untuk secara bersama – sama menentukan dan menyepakati penentuan waktu tanam, varietas yang akan ditanam serta sarana produksi yang digunakan sampai kepada perumusan beberapa kebijakan yang perlu diambil setelah pasca panen. Dan dalam kesempatan ini pula Bupati Maros menyerahkan berbagai bantuan untuk petani/kelompok tani. Salah satu diantaranya adalah menyerahkan secara simbolis bantuan dana bagi pengembangan kelembagaan Posluhtan (FMA) P3TIP/FEATI di Kab. Maros. Untuk kesemuanya ini tentu diharapkan adanya peningkatan produktivitas pertanian sebagai upaya memantapkan ketahanan pangan di daerah ini.

Kab. Maros yang masih memposisikan diri sebagai daerah agraris dan masih mengandalkan sektor pertanian sebagai sektor unggulan, tentunya akan selalu menjadi perhatian bagi pemerintah daerah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai kepada pasca panen, hal tersebut dimaksudkan agar potensi dan daya dukung tersebut dapat memberikan konstribusi bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu diharapkan kepada segenap pelaku usaha dan pelaku utama agar dapat menonjolkan komoditi unggulan di masing – masing daerah (desa/kel/kec) sebagai komoditi andalan kabupaten.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros Ir. H. Burhanuddin, MM mengatakan dari tahun ke tahun pelaksanaan Tudang Sipulung yang telah dilaksanakan, cukup dirasakan telah memberi dampak positif bagi pelaksanaan pembangunan daerah khususnya pembangunan sektor pertanian, karena berbagai masukan yang diperolah adalah merupakan hasil musyawarah desa dan kecamatan yang telah menghadirkan stakeholders yang terkait dengan sektor pertanian, sehingga keputusan yang dihasilkan pada musyawarah tudang sipulung tingkat kabupaten ini adalah keputusan aspiratif dan cukup demokratis, karena bahan yang didiskusikan merupakan usulan – usulan yang berasal dari bawah atau dari para petani.

Oleh sebab itu yang perlu mendapatkan perhatian dari kita semua khususnya kepada kelompok tani atau para petani adalah kedisiplinan melaksanakan apa yang telah disepakati. Dengan demikian musyawarah tudang sipulung ini hendaknya dimanfaatkan sebaik – baiknya untuk mengemukakan saran, pendapat dan pengalaman, kemudian disenergikan dengan berbagai teori dan kebijakan di bidang pertanian, sehingga mudah – mudahan tudang sipulung ini dapat menghasilkan keputusan terbaik yang mampu mengangkat produktivitas pertanian.

Ir. M. Alfian Amri, M.Si selaku Sekretaris Bapeluh/P2K FEATI Kab. Maros mengatakan bahwa dalam mewujudkan peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat tersebut diperlukan adanya koordinasi dan komunikasi antar instansi terkait, dan meningkatkan kinerja masing – masing agar lebih efisien, efektif dan sinergis karena pembangunan produksi pangan yang harus dilaksanakan secara utuh dan terpadu dalam rangka ketersediaan dan kecukupan pangan. Dan hal ini sejalan dengan Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) Kab. Maros yang mana pada kegiatan ini dititik beratkan pada pengembangan SDM petani yang nantinya diharapkan akan terjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Begitu pula diminta kepada seluruh warga masyarakat khususnya kepada yang bergerak di sektor pertanian, kiranya dapat mengelola pertaniannya secara intensif dengan lebih banyak memanfaatkan jasa konsultasi dari para PPL yang ada serta dukungan penuh dari petani melalui kelompok taninya.

Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) Kab. Maros telah memasuki tahun ketiga dalam hal pengembangan kelembagaan Posluhtan (Unit Pengelola - FMA) di 60 desa/kel Kab. Maros. Dan telah memberikan pembinaan/pengembangan SDM bagi para petani secara partisipatif yang difasilitasi oleh para Penyuluh Pertanian (Tim Penyuluh Lapangan) kec dan desa.

Kegiatan Penyuluhan yang partisipatif kepada petani dan kelompok tani agar lebih ditingkatkan sehingga penyebaran informasi teknologi kepada petani dapat berjalan dengan lancar. Hal tersebut sangat penting dalam rangka pemantapan ketahanan pangan, pengembangan agribisnis dan yang terpenting adalah dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

Selasa, 03 Agustus 2010

PELATIHAN KOMPUTER & WORKSHOP e PETANI 2010

Program Pemberdayaan Petani dengan Teknologi dan Informasi Pertanian / Farmer Empowerment Through Agricultural Technology and Information (FEATI) dirancang untuk mewujudkan sistem penelitian dan penyuluhan pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan petani dalam menghadapi perkembangan ekonomi global. Program FEATI bertujuan untuk memberdayakan petani dan organisasi petani dalam peningkatan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan aksesibilitas terhadap informasi, teknologi, modal dan sarana produksi, pengembangan agribisnis dan kemitraan usaha. Sasarannya meliputi: Petani yang telah tergabung dalam kelompok tani (poktan); Gabungan Kelompok Tani (gapoktan); Asosiasi dan korporasi petani. Ruang lingkup kegiatannya diantaranya adalah Penguatan dukungan teknologi pada usaha tani/agribisnis di tingkat petani; dan Perbaikan pelayanan teknologi dan informasi pertanian.

Dalam upaya meningkatkan ketrampilan Penyuluh Pertanian kabupaten dalam pengelolaan Information Technology (IT), maka pada tanggal 01 s/d 02 Agustus 2010 dilaksanakan pelatihan. Dan dilanjutkan dengan workshop ePetani pada tanggal, 03 Agustus 2010. Bertempat di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahaanan Pangan Kabupaten Maros, Pusat Data dan Informasi Pertanian (PUSDATIN) Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Komputer Komp@k Kabupaten Maros melaksanakan pelatihan yang berkaitan dengan pengetahuan dasar komputer dan e-Petani dengan peserta Penyuluh Pertanian dan Staf BPP serta Pengurus UP – FMA sebagai peserta workshop, pelatihan difasilitasi oleh Yenni Tat dan Asiah dari Pusdatin. Pelatihan e-Petani ini dibuka secara resmi oleh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Kab. Maros yang diwakili oleh Sekretaris Badan/P2K P3TIP/FEATI Ir. Muh. Alfian Amri, M.Si. Dalam arahannya kepada peserta pelatihan, penyuluh pertanian dan staf yang telah dilatih diharapkan mampu menerapkan ilmunya serta dapat berperan sebagai fasilitator dan motivator kepada penyuluh pertanian maupun petani dilokasinya.

Adapun tujuan dari pelatihan ini adalah untuk ; meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Penyuluh Pertanian dan Staf BPP dalam menggunakan komputer mulai dari pengenalan computer, manfaat teknis dan sosial dari penggunaan computer, pemanfaatan internet, berkomunikasi melalui e-mail serta pengenalan ePetani.

Harapan kedepan semoga dengan pelatihan ini dapat bermanfaat bagi peserta khususnya Penyuluh Pertanian dalam menunjang tugas – tugas di lapangan dalam membimbing petani.

Senin, 02 Agustus 2010

KEGIATAN UP - FMA PATANYAMANG TAHUN 2009

Proses pembelajaran bertujuan untuk memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha melalui penerapan kegiatan penyuluhan yang dikelola oleh pelaku utama dan pelaku usaha itu sendiri (Farmer Managed Extension Activities/FMA). Melalui kegiatan FMA menitikberatkan pada pengembangan kapasitas manajerial, kepemimpinan dan kewirausahaan pelaku utama dan pelaku usaha dalam pengelolaan kegiatan penyuluhan pertanian.
Dalam metode FMA ini, pelaku utama dan pelaku usaha mengidentifikasikan permasalahan dan potensi yang ada pada diri, usaha dan di desa. Merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan kebutuhan secara partisipatif dalam rangka meningkatkan produktivitas komoditas unggulan usaha agribisnis guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
Desa Patanyamang Kecamatan Camba, merupakan salah satu desa lokasi UP - FMA di Kabupaten Maros yang terletak di sebelah Utara Kabupaten Maros dengan jarak + 50 km dari ibukota kabupaten. Di Desa Patanyamang pengembangan metode FMA telah dilakukan selama 2 (dua) tahun melalui Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) yang dilaksanakan di 60 desa/kel yang tersebar di 14 kecamatan. Melalui kegiatan ini petani difasilitasi untuk merencanakan dan mengelola sendiri kebutuhan belajarnya, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan pelaku utama.
Untuk kegiatan FMA Tahun 2009, Posluhtan Patanyamang Desa Patanyamang Kec. Camba melakukan kegiatan Pelatihan Agribisnis Sapi Potong yang difasilitasi oleh Ir. H. Muh. Syahrir, MP, Ir. Musyawar A, M.Si dan unsur terkait dari BPP Camba yang dilaksanakan pada bulan Januari s/d Mei 2010. Adapun pelaksana kegiatan pelatihan adalah Kelompoktani Matras yang diketuai Drs. Nasruddin dengan alamat Dusun Lalebata Desa Patanyamang. Agar kegiatan FMA ini dapat mencapai sasaran secara berdaya guna dan berhasil guna, maka peserta pelatihan yang diundang adalah petani ternak yang diharapkan nantinya akan mengembangkan usahanya setelah mengikuti pelatihan ini. Demikian disampaikan oleh Koordinator BPP Camba H. Paduppa Saleh, STP sebagai Ketua Tim TPL kecamatan Camba.
Nurhidayah selaku Ketua Posluhtan Patanyamang mengatakan bahwa dipilihnya kegiatan ini merupakan hasil PRA masyarakat desa dan hasil kajian agribisnis yang dilakukan dalam menyusun proposal kegiatan pembelajaran FMA yang difasilitasi oleh Darnis, SP sebagai Penyuluh Pertanian Lapangan Desa Patanyamang.
Sehubungan dengan itu Ir. Muh. Alfian Amri, M.Si selaku P2K P3TIP/FEATI Kab. Maros mengatakan bahwa dalam pengajuan judul proposal kegiatan UP – FMA tidak bersifat insidentil karena hal ini akan merugikan masyarakat itu sendiri. Dan seyogyanya kegiatan yang akan dilakukan berasal dari kebutuhan petani dan sesuai dengan kajian agribisnis yang mereka lakukan. Dan diharapkan bahwa dengan kegiatan UP – FMA di 60 desa/kel di Kabupaten Maros tidak saja merubah perilaku pengurus UP – FMA dan anggotanya tetapi dapat juga menularkan ilmunya kepada petani lain untuk merubah pola pikirnya.

Rabu, 28 Juli 2010

Penilaian Kinerja Konsultan FEATI/P3TIP Kab. Maros


Bertempat di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros pada tanggal, 28 Juli 2010 dilakukan Penilaian Kinerja Konsultan FEATI/P3TIP Kab. Maros. Ir. Hj.Asia Patompo dari FEATI Pusat yang didampingi oleh Monev FEATI Propinsi Sulawesi Selatan Nur Akhriadi. Metode penilaian yang dilakukan adalah presentasi, wawancara dengan Pengurus UP - FMA yang dikunjungi dan dilanjutkan dengan Penilaian oleh DPIU FEATI kabupaten dengan mengisi kuisioner yang telah disiapkan. Sebelum Tim ke lapangan Konsultan FEATI/P3TIP Ir. Muh. Irdan, AB mempresentasikan kegiatan - kegiatan fasilitasi yang telah dilakukan dalam pendampingan FEATI Maros baik itu Pembinaan Petani / UP-FMA maupun DPIU (Pengelola FEATI/P3TIP Kabupaten). Untuk mengecek kebenaran informasi yang telah disampaikan oleh konsultan dilakukan kunjungan lapangan ke UP - FMA sesuai yang ditentukan oleh FEATI Pusat. Dan kemudian dilanjutkan dengan penilaian DPIU kabupaten dengan pengisian kuisioner. Menurut Asisten Teknis/FMA Asmuri, S.Pi bahwa keberadaan konsultan FEATI kabupaten sangat membantu dalam berbagai hal terutama dalam fasilitasi FMA. Dan hal ini dibenarkan juga oleh Asisten MONEV Ir. H. Muh. Syahrir, MP bahwa konsultan kabupaten selama ini merupakan mitra dari DPIU FEATI atau Tim Kerja dari DPIU FEATI Maros.
Dari hasil penilaian kuisioner yang dilakukan oleh DPIU FEATI Maros yang dibacakan oleh P2K FEATI Maros Ir. Muh. Alfian Amri, M.Si menyatakan bahwa nilai yang diperoleh dari hasil nilai kumulatif dari DPIU adalah Sangat Memuaskan dan P2K juga mengatakan bahwa Konsultan FEATI Maros Ir. Muh. Irdan. AB memiliki Inovatif, Kreatif dan mampu mengembangkan diri. Kedepan P2K FEATI Maros mengharapkan kepada konsultan FEATI untuk lebih meningkatkan fasilitasi dan pendampingannya terhadap Petani dan DPIU FEATI Maros.

Senin, 26 Juli 2010

Penyerapan Dana FEATI Maros SMS I 2010


Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP)/FEATI adalah dirancang untuk mewujudkan sistem penelitian dan penyuluhan pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan petani dalam menghadapi perkembangan ekonomi global. Program tersebut merupakan bagian dari usaha kunci Pemerintah untuk merevitalisasi penyuluhan pertanian. Pemberdayaan petani melalui jaringan informasi yang berkembang, pembangunan komunitas agribisnis, peningkatan hubungan antara penelitian dan pengembangan akan menghasilkan diversifikasi yang meningkat, pendapatan petani yang lebih tinggi, dan sektor pertanian yang lebih kompetitif.
Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros merupakan salah satu kabupaten lokasi P3TIP/FEATI dari 4 (empat) kabupaten di Sulawesi Selatan. Untuk Tahun 2010 Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros melalui Program P3TIP/FEATI telah melaksanakan berbagai kegiatan, namun demikian masih ada kegiatan beberaqpa yang belum terlaksana. Untuk Semester I (pertama) P3TIP/FEATI Kab. Maros penyerapan dana atau realisasi anggaran, baru dapat menyerap Rp. 174.672.000,- atau sekitar 7,84% dari total nilai pagu anggaran. Menurut Financial Officer (FO) atau Asisten Keuangan P3TIP/FEATI Kab. Maros Ir. Rohani Asadi bahwa rendahnya penyerapan dana untuk semester I disebabkan karena ; belum terlaksananya kegiatan FMA yang berada di 60 desa, adanya kegiatan pertemuan atau pelatihan yang saling terkait dengan pelaksanaan kegiatan FMA yang akan dilaksanakan dan belum terealisasikannya belanja modal berupa pengadaan peralatan kantor dan meubelair.
Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) P3TIP/FEATI Kab. Maros Ir. M. Alfian Amri, M.Si mengatakan bahwa untuk kegiatan FMA di desa sedang berproses, sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk lapangan. Dan diharapkan kegiatan penyusunan proposal FMA yang telah disusun oleh petani anggota FMA dapat selesai dan akan diverifikasi di kabupaten oleh Tim Verikasi FMA sesuai dengan jadwal yang telah disepakati bersama. Sedangkan untuk kegiatan lainnya, P2K P3TIP/FEATI optimis bahwa dengan berjalannya proses penyusunan proposal FMA, Verifikasi FMA hingga pelaksanaan kegiatan FMA, kegiatan yang saling terkait, dapat terlaksana dengan baik dan hal ini atas dukungan dari tim work dari beberapa asisten P3TIP/FEATI sesuai dengan tugas pokoknya masing - masing serta Konsultan P3TIP/FEATI Maros Ir. Irdan, AB. Demikian harapan dari P2K P3TIP/FEATI Kab. Maros semoga untuk triwulan kedepan penyerapan dana dapat lebih baik.

Senin, 21 Juni 2010

KEGIATAN JICA JUNIOR EXPERT DI KAB. MAROS TELAH BERAKHIR


Higusa Nakatani, Junior Expert dari Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) mengemban tugas di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros, dalam rangka kerjasama teknik pertanian organik dengan fokus di budidaya sayuran, bersama petani dan penyuluh kabupaten Maros. Kegiatan ini dilaksanakan dalam jangka waktu bulan Agustus 2008 s/d Juni 2010.

Dalam jangka waktu tersebut, Junior Expert (JE) bersama penyuluh pertanian kabupaten mengumpulkan data dan meninjau lokasi dan situasi petani di lapangan. Berdasarkan peninjauan tersebut, ada 3 (tiga) kecamatan ; Camba, Tanralili dan Maros Baru yang mempunyai potensi untuk membudidayakan sayuran organik. Tetapi diantara ketiga kecamatan tersebut, Camba mempunyai potensi dan prospek komoditi sayuran yang dapat diandalkan jika dibandingkan dengan kedua kecamatan tersebut dan didukung pula oleh adanya Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) ASAMAYAMA yang dikelola oleh petani yang diketuai oleh Baidarus seorang alumni magang Jepang.

Dengan berbagai pertimbangan dan masukan dari para penyuluh pertanian kabupaten dan Kepala Badan akhirnya ditetapkan Kec. Camba Desa Pattiro Deceng sebagai daerah pengembangan pertanian organik yang akan dikembangkan oleh JE. Sejalan dengan itu Program Pemberdayaan Petani melalui Teknologi dan Informasi Pertanian (P3TIP/FEATI) Kab. Maros melalui Posluhtan Unit - FMA yang berada di desa – desa Kec. Camba menyelenggarakan Pelatihan Pertanian Organik dimana JE juga berperan serta sebagai pemateri didamping pemateri lainnya. Dalam pelatihan tersebut, JE melaksanakan demonstrasi dan aplikasi dilapangan atau dilahan peserta pelatihan.

Untuk mempermudah mengenalkan pertanian organik sebagai langkah awal, JE membuat kebun percontohan pertanian organik yang dimulai dengan pembuatan pupuk bokashi dan kompos hingga penanaman sayuran. JE berkunjung ke rumah – rumah petani mensosialisasikan pertanian organik menfaat dan keuntungannya bertani dengan cara tersebut. Disamping itu juga JE mengadakan kegiatan rutin untuk belajar tentang pertanian organik dengan teori maupun praktek serta diskusi berbagai permasalahan pertanian di lapangan. Seiring dengan berjalannya waktu, peningkatan pengetahuan petani juga semakin meningkat hal ini ditandai dengan ketertarikan petani untuk bertani secara organik di lahan masing – masing dan hal ini juga mempengaruhi waktu berkunjung petani ke lahan percontohan semakin berkurang. Melihat kondisi tersebut, JE mengambil langkah untuk mengunjungi petani di lahan usahanya. Lambat laun pertanian organik semakin berkembang di Kec. Camba dengan difasilitasi oleh petani yang telah belajar pada JE ke petani lainnya yang berminat terhadap pertanian organik (dari petani oleh petani dan untuk petani).

Hasil memasyarakatkan budidaya pertanian organik di Kec. Camba, produksi pertanian organik melimpah, pemasaran hasil tidak ada. JE bersama penyuluh petanian kab. maros yang difasilitasi Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Prop. Sul – Sel mencoba survey pasar ketiga supermaket terbesar di Makassar yaitu Carrefour, Hypermart dan Hero dengan membawa sampel hasil budidaya sayuran organik yang dijamin tanpa pestisida.

Dari hasil survey pasar diketahui bahwa animo permintaan ketiga supermaket tersebut sangat baik terbukti dengan adanya keinginan mereka untuk bermitra atau membeli hasil pertanian organik dari Kec. Camba, dengan syarat pasokan harus kontinyu (terus menerus) dan hal ini yang belum dapat dipenuhi petani. Melihat kondisi tersebut JE besert penyuluh pertanian akhirnya mengambil jalan tengah untuk memasarkan produk pertanian organik secara lokalan dengan memenuhi permintaaan rumah – rumah makan di Kec. Camba, Kab. Maros dan sekitarnya.

Dampak dari kegiatan ini adalah semakin banyak masyarakat tani di kecamatan camba dan sekitarnya berusaha tani dengan pertanian organik. Dan beberapa petani telah berinisiatif untuk membentuk organisasi kelompok tani misalnya Kelompok Organik Mappideceng di Desa Timpuseng Kec. Camba.

Mudah – mudahan ke depan produksi dan pasaran sayuran organik di kec. Camba dapat lebih kuat, mencapai kebutuhan konsumen dan memperbaiki pendapatan petani organik dan taraf hidup masyarakat yang lebih baik.

Ir. Muh. Alfian Amri, M.Si selaku P2K P3TIP/FEATI Kab. Maros sangat mengapresiasikan kegiatan Junior Expert di Kab. Maros dan mengharapkan bahwa pembelajaran pertanian organik tidak saja terfokus pada daerah kec. Camba tetapi dapat menyebar ke kecamatan lainnya di Kab. Maros utamanya Posluhtan sebagai Unit Pengelola FMA desa.

Kamis, 18 Maret 2010

MUSRENBANG KAB. MAROS TAHUN 2010

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kabupaten Maros tahun 2010 untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kab. Maros tahun 2011 di laksanakan di Aula Al – Markaz Al Islami Maros.

Musyawarah dibuka oleh Sekretaris Daerah Maros, Ir. H. Baharuddin, MM yang dihadiri oleh anggota DPRD Kab. Maros, unsur Muspida, dan para pimpinan SKPD se – Kab. Maros. Kepala Bappeda Maros, Drs. Thamrin Ramli, MM menyampaikan, sebagai rangkaian Musrembang kabupaten ini, sebelumnya telah dilaksanakan musrembang tingkat desa/kelurahan 20 Januari s/d 10 Pebruari 2010 menghasilkan rancangan RKPD defenitif 103 desa/kelurahan sedangkan Musrembang Tingkat Kecamatan telah dilaksanakan mulai tanggal, 15 Pebruari s/d 22 Pebruari 2010 di 14 kecamatan di Kab. Maros menghasilkan RKPD konsultatif 14 Kecamatan. Kedua rancangan RKPD ini merupakan rancangan awal dari RKPD Pemkab. Maros tahun 2011.

Adapun maksud dan tujuan dari Musrembang ini adalah untuk menghasilkan kesepakatan antar pelaku pembangunan tentang RPKD yang menitikberatkan pada pembahasan dan sinkronisasi rencana kerja SKPD lingkup Pemkab Maros sedangkan tujuannya adalah menampung dan menetapkan kegiatan prioritas sesuai kebutuhan masyarakat yang diperoleh dari Musrembang tingkat desa dan kecamatan serta menetapkan kegiatan yang dibiayai melalui APBD kabupaten maupun sumber dana lainnya yang tersedia.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros, Ir. H. Ansarullah, MM mengatakan bahwa pada pelaksanaan Musrembang kali ini prioritas kebutuhan masyarakat lebih banyak didominasi oleh kegiatan fisik. Padahal kegiatan non fisik juga masih sangat diperlukan misalnya kegiatan penyuluhan, pelatihan petani, sekolah lapang dan lain - lain yang sifatnya peningkatan kemampuan SDM petani.

Ir. M. Alfian Amri, M.Si mengatakan bahwa untuk peningkatan SDM Petani, P3TIP/FEATI melalui FMA desa yang berada di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan siap melaksanakan kegiatan tersebut, tinggal bagaimana caranya untuk kebutuhan kegiatan fisik sedapat mungkin dapat difasilitasi oleh dinas lingkup pertanian yang bersangkutan agar terjadi sinergi antara badan dan dinas lingkup pertanian lainnya sehingga tercipta kesamaan presepsi terhadap peningkatan kesejahteraan petani selaku pelaku utama dan terbukanya akses informasi teknologi seluas - luasnya terhadap informasi pasar yang dibutuhkan.

Kamis, 18 Februari 2010

KEGIATAN FEATI MAROS TA. 2010

Program FEATI pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (Bapeluh KP) Kabupaten Maros telah memasuki tahun ketiga dari lima tahun program yang direncanakan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Deperatemen Pertanian RI ( Closing date program 2011). Menurut Kepala Bapeluh KP Kabupaten Maros Ir. H. Ansarullah, MM selaku Kuasa Pengguna Anggaran bahwa selama tiga tahun program FEATI telah melaksanakan berbagai kegiatan untuk pemberdayaan petani baik itu pelatihan teknis untuk petugas maupun petani yang manfaatnya sangat dirasakan bagi peningkatan pengetahuan bagi para petani yang nantinya diharapkan akan meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan petani dan mampu mengakses teknologi dan informasi secara mudah.

Untuk tahun anggaran 2009 penyerapan dana FEATI sebesar 90,90% dari total dana yang tersedia sebesar Rp. 4.883.809.000,-. Dengan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan, diantaranya pendidikan dan pelatihan teknis bagi penyuluh dan petani, penyuluhan dan penyebaran informasi, pembangunan gedung dan pengadaan perlengkapan, pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha atau FMA dan lain – lain.

Khusus untuk pembangunan gedung, telah dibangun gedung BPP baru sebanyak 4 unit dengan lokasi Kec. Camba, Kec. Moncongloe, Kec. Tompobulu dan Kec. Turikale, dimana sebelumnya gedung BPP yang digunakan status pinjam pakai baik dari gedung milik masyarakat maupun dari Pemkab. Maros. Dan 4 gedung BPP telah direhab di Kec. Maros Baru, Kec. Bantimurung, Kec. Mandai dan Kec. Lau. Kesemuanya ini diharapkan dapat menguatkan kelembagaan penyuluhan.

Sedang untuk pengembangan kelembagaan dan kemitraan usaha atau FMA, telah disalurkan dana grant ke 52 Unit Pengelola FMA dari 60 UP.FMA desa di Kab. Maros. Melalui kegiatan ini diharapkan petani terfasilitasi merencanakan dan mengelola sendiri kebutuhan pembelajarannya, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan petani.

Untuk tahun 2010, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Deptan kembali mengucurkan dana sebesar Rp. 2.229.088.000,- untuk kegiatan program pemberdayaan petani dengan harapan bahwa pada program ini akan mewujudkan pembangunan pertanian yang tangguh, terciptanya sumberdaya manusia bidang pertanian yang mempunyai kemampuan yang handal, dan akan tercipta kemandirian serta tanggungjawab dalam memanfaatkan dan meningkatkan mutu sumberdaya pertanian dalam mengelola usahanya.

Ir. Muh. Alfian Amri, M.Si selaku Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) FEATI Maros optimis bahwa dari kegiatan ini akan terjadi peningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensi sehingga penyelenggaraan penyuluhan pertanian di Kab. Maros menjadi kuat dan akan terwujud revitalisasi penyuluhan pertanian sebagai upaya untuk memfungsikan dan menata kembali penyuluhan pertanian dalam satu kesatuan manajemen yang dinamis.

FEATI di Maros adalah adalah salah satu gambaran program nyata dalam mempercepat revitalisasi penyuluhan pertanian itu sendiri dalam memberikan sentuhan pendalaman dan pengkajian informasi dan teknologi kepada petani. Dalam mengemban program tersebut tidaklah ringan, kemauan dan kemampuan, serta kerja keras, belum menjamin. Hal urgent yang perlu diraih adalah dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak (stakeholders) dalam membangun kemampuan sumber daya manusia para Penyuluh Pertanian sebagai Fasilitator dan Petani.

Jumat, 22 Januari 2010

ORIENTASI AGRIBISNIS

Oleh Ir.Muhammad Irdan AB


Pada umumnya usaha tani yang diselenggarakan oleh petani, masih mengedepankan produksi (budidaya) secara konvensional, ketimbang melihat kebutuhan pasar. Beberapa komoditas yang dihasilkan, setelah panen, ternyata kurang laku di pasaran atau paling tidak harganya anjlok tidak sesuai harapan petani. Hal ini disebabkan oleh karena jumlah komoditi yang diproduksi oleh para petani lebih banyak dari pada permintaan pasar atau over prosuksi. Maka permasalahan utama petani terkait dengan hal tersebut adalah komoditas yang tidak laku di pasaran. Padahal biaya produksi yang dikeluarkan utuk menghasilkan komoditi tersebut, tidak sedikit, sehingga usaha tani yang dijalankan menjadi “lebih besar pasak dari pada tiang” atau lebih besar pengeluaran dari pemasukan alias rugi.

Untuk mengatasi masalah itu, orientasi berfikir petani kita harus berubah ke orientasi agribisnis. Usaha tani harus dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang melingkupinya, diantaranya komponen input (masukan), produksi, pasca panen, pengolahan dan pemasaran, adalah faktor yang mutlak diperhatikan. Bukan hanya sekedar faktor produksi saja. Itulah yang dimaksud berfikir agribisnis adalah berfikir dari hulu sampai ke hilir, atau “satu siklus usaha tani”.

Namanya saja agribisnis, maka “pasar” adalah komponen pertama yang mutlak di perhatikan, sebelum melakukan proses produksi. Sejumlah pertanyaan-pertanyaan awal , yang mutlak dijawab terkait dengan pasar adalah komoditas apa yang paling laku (diminati) pasar ?, kemudian seberapa besarkah kebutuhan pasar terhadap komoditas itu ? Apakah kebutuhan pasar itu sudah terpenuhi ? atau berapa lagi kebutuhan pasar yang harus di suplai oleh petani ?

Untuk menjawab pertanyaan itu tentunya langkah yang perlu di lakukan adalah pemahaman sederhana mengenai kebutuhan pasar. Pertanyaan kita kemudian adalah, mampukah petani melakukan survay dan analisis permintaan pasar ? Kenyataan di atas menuntut adanya pemberdayaan petani, dari penyadaran akan pentingnya melihat pasar sebelum berproduksi, ke proses pembelajaran untuk bisa memahami keadaan pasar sebelum berusaha tani. Disinilah dibutuhkan intervensi pemerhati atau fasilitator pemberdayaan, adalah melakukan penguatan kapasitas petani agar bisa memahami pasar. Dan pasti bisa, karena yang mengetahui dengan pasti masalah petani adalah petani sendiri. Yang perlu dilakukan oleh fasilitator adalah membuka pintu atau jalan bagaimana para petani bisa mengoptimalkan potensinya sendiri. Jadi pembelajaran pertama petani dalam hal agribisnis adalah bagaimana petani faham dan mampu melakukan survay dan analisis pasar secara sederhana.

Selanjutnya, kemungkinan ada beberapa komoditas yang paling di minati pasar. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah komoditas yang mana yang paling di minati diantara yang di minati ? atau pertanyaan lainnya adalah komoditas yang mana yang paling menguntungkan bagi petani. Maka pembelajaran agribisnis kedua adalah bagaimana petani mampu melakukan hitung-hitungan (analisis usaha tani) terhadap setiap komoditi. Tentunya, setiap komoditas berbeda kebutuhan input (biaya produksinya) dan harga jualnya setelah di lempar ke pasaran. Matematikanya sangat sederhana, harga jual dikurangi ongkos produksi itulah keuntungan bagi petani. Dari logika sederhana itu selayaknya petani dapat mengetahui komoditas mana yang paling menguntungkan baginya sekali gus diminati pasar, dan mampu diproduksi dengan skala usaha tertentu.

Pemberdayaan agribisnis petani tidak berhenti hanya pada proses pembelajaran (Belajar sambil berusaha) secara personal saja. BELAJAR menciptakan kemampuan. Namun untuk memenuhi tuntutan pasar dan mengembangkan skala usaha, petani juga membutuhkan kerjasama dgn petani lainnya. Mungkin ada permasalahan-permasalahan atau kendala agribisnis yang tidak mampu di selesaikan di tingkat keluarga tani, maka dibutuhkan penguatan kelembagaan petani sebagai wadah kerjasama dan interaksi agar dapat mengembangkan aksesnya dan dapat menyelesaikan permasalahannya secara kolektif. Selain itu kebutuhan untuk membangun norma yang lebih besar (baca: institusionalisasi), juga dalam rangka meningkatkan nilai tawar petani.

Pada kenyataannya petani yang telah mengembangkan kerjasama, norma, dan kelembagaannya dari kelompok tani di komunitasnya, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) pada skala desa, hingga asosiasi petani pada tingkat kabupaten, propinsi dan seterusnya, juga semakin mengalami perluasan akses dan transformasi Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan. Dengan catatan kelompok yang terbangun itu adalah kelompok SEJATI, bukan kelompok MERPATI dan PEDATI (kelompok yang muncul ketika ada proyek). Realitas juga menunjukkan bahwa asosiasi petani yang spesipik atau fokus pada komoditas yang diupayakan bersama, lebih mudah mengalami proses pengembangan agribisnis dibanding institusi atau lembaga yang dibentuk berdasarkan kesamaan wilayah semata, namun tidak focus pada produk atau komoditas.

Sewaktu Pak Prof.Amiruddin menjadi Gubernur Sulsel, dicanamkan Triprogram Sulawesi Selatan yang sebenarnya berorientasi agribisnis. Program itu adalah (1) Perubahan pola fikir, (2) Pengwilayahan komoditas dan (3) Petik-Olah-Jual.

Perubahan pola fikir, arahnya dari berfikir lata ke berfikir produktif, yang contohnya sudah dikemukakan di atas. Pengwilayahan komoditas adalah pengembangan potensi wilayah dengan komoditas yang sesuai dengan karakteristik atau potensi lokal, dan Petik-Olah-Jual, bermaksud memberikan nilai tambah terhadap produk yang di hasilkan petani, bahwa akan lebih menguntungkan bila produk diolah dan dikemas terlebih dahulu sebelum di lempar ke pasar. Selain itu dapat mengantisipasi kemungkinan kerusakan-kerusakan produk yang rentan kerusakan bila disimpan terlalu lama.
Jadi pembelajaran agribisnis berikutnya setelah faktor produksi yang pada umumnya petani sudah sangat paham, adalah mengenai pasca panen dan pengolahan. Petani membutuhkan kemampuan skill teknologi pasca panen dan pengolahan, misalnya saja bagaimana membuat saos tomat dan membuat kemasan agar produksi tersebut menjadi lebih memiliki efisiensi, efektifitas dan bernilai jual tinggi. Berapa banyak komoditas di pasar swalayan dan mall, yang kuantitas serta kualitasnya relativ sama dengan yang dijual oleh petani di pasar tradisional, namun lebih laris, meskipun harganya lebih mahal dari pada yang dijual langsung oleh petani, hanya persoalan kemasannya yang lebih menarik.

Dalam skala besar, pada umumnya ada syarat produksi pertanian dapat diterima oleh pasar, yakni kualitas (mutu), kuantitas (jumlah) dan Kontinuitas (keberlanjutan suplai). Pada umumnya pasar lebih mengutamakan komoditas inport apakah antar pulau atau negara, ketimbang komoditas lokal, dengan alasan komoditas impor tersebut lebih menjamin kuantitas, kualitas, kontinuitas dan harga dibanding komoditas lokal.

Terkait dengan hal tersebut, proses pemberdayaan yang diperlukan oleh petani adalah fasilitasi dan mediasi pertemuan antara petani dengan pihak ke tiga atau berbagai jejaring agar dapat melakukan interaksi dan transaksi pemasaran produk, agar terbuka wawasannya tentang criteria produk yang diminati serta dapat dikerjasamakan dengan pihak pasar. Kekuatan jejaring petani atau kemitraan petani adalah indicator bahwa petani itu telah memiliki keberdayaan.

Semoga FMA (Farmer Managed Extension Activities) atau Kegiatan Penyuluhan yang dikelola mandiri oleh petani dapat menjadi proses membangun minat dan kesadaran, proses pembelajaran, penguatan kelembagaan dan penguatan jejaring petani yang beorientasi agribisnis, dapat mengukir kisah sukses pemberdayaan agribisnis petani di Indonesia.