Kamis, 17 September 2009

Temu Lapang Petani dan Peneliti

Acara bertajuk Temu Lapang Teknologi PHT (Pengendalian Hama Terpadu) Tomat antara peneliti dan petani, berlangsung di Posluhtan (Pos Penyuluhan Pertanian) Kelurahan Borong Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, 17 September 2009. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara BPP Tanralili, BPTP (Balai Pengkajian Teknologi Pertanian) Sudiang dan Posluhtan Kelurahan Borong.

Hadir pada acara ini antara lain 4 kelompok tani di kelurahan Borong, satu kelompok diantaranya adalah Kelompok Wanita Tani (KWT), Kepala dan staf peneliti dari BPTP, Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Maros, Koordinator BPP beserta segenap penyuluh kecamatan Tanralili, Pemerintah Kecamatan Tanralili dan Konsultan FEATI Kabupaten Maros.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan studi petani (demplot) PHT Tomat, di lahan kelompok tani dengan mengujicobakan 4 varietas tomat yaitu Vaietas Ratna EW, Varietas Latanza, Varietas Permata, dan Varietas Cosmonov. Demplot ini sudah di mulai sejak 3 bulan yang lalu, dimulai dengan pengolahan tanah, perbenihan, hingga pemanenan pada saat ini, diterapken teknologi PHT yang memadukan berbagai cara pengendalian organisme pengganggu tanaman. Rencananya selanjutnya BPTP akan lebih mengintensifkan sosialisasi teknologi pasca panen dan pengolahan hasil pertanian, sebab menurut Abdul Syukur Syarif.SP.MP (Peneliti BPTP Sulsel) agar petani dapat lebih berdaya di pasaran agribisnis, perlu penguatan kapasitas petani bukan sekedar aspek produksi akan tetapi juga aspek teknologi pasca panen dan pengolahan yang selain dapat mengantisipasi fluktuasi harga pasar, juga mengantisipasi kerusakan komoditi hortikultura yang pada umumnya tidak bisa bertahan lama setelah di panen. Salah satu teknologi yang dimiliki oleh BPTP yang dapat diadopsi oleh petani tomat adalah teknik pembuatan Saus Tomat. BPTP bekerjasama dengan BPP juga akan memberikan konsultasi kepada petani tentang analisis usaha Tani Tomat.


Camat Tanralili mengungkapkan bahwa factor utama yang perlu diperhatikan sebelum petani memproduksi komuditasnya adalah persoalan analisis biaya, apakah perbandingan antara input dan output bernilai ekonomis atau tidak. Selanjutnya bagaimana pasarnya ? apakah produk tersebut dibutuhkan oleh pasar atau justru sudah over produksi. Lebih lanjut Kepala BPTP Dr.Ir.Nasrullah.M.Sc tugas BPTP sebagai lembaga peneliti adalah melayani petani melalui transfer teknologi yang merupakan kebutuhan petani, dimana teknologi yang di aplikasikan tersebut dapat dikembangkan secara kontinu, bukan sebatas ada proyek saja.

Pada kesempatan ini, Ir.Asad, M.Sc (Peneliti BPTP Sulsel) memaparkan kapita selekta teknologi PHT Tomat kepada petani, agar dalam membudiadayakan tanaman tomat dapat berorientasi pada peningkatan produksi akan tetapi tetap menjaga keseimbangan alam dengan memadukan berbagai teknik pengendalian organisme pangganggu tanaman diantaranya pengendalian secara mekanis, pengendalian hayati dan menjadikan pengendalian kimiawi sebagai alternative terakhir dengan memperhatikan ambang ekonomi perkembangan populasi serangga hama. Karena problem selama ini petani sudah menjadikan pestisida sebagai prilaku, sehingga bila ada serangga langsung diaplikasikan pestisida, sementara menurut Abdul Syukur Syarif.SP.MP dampak yang ditimbulkan oleh aplikasi pestisida secara tidak bijaksana adalah kesehatan, kerusakan keseimbangan alam dan matinya serangga berguna.

Konsultan FEATI Maros, Ir.Muhammad Irdan AB, pada kesempatan tersebut menyarankan agar semakin berkembang akses petani terhadap transfer teknologi, maka BPTP dapat mengembangkan paradigma riset partisipatoris, dan petani pembelajar dalam FMA diharapkan memberikan porsi yang seimbang terhadap narasumber yang berasal dari kalangan penyuluh, peneliti dan dari kalangan petani sendiri. Selanjutnya diharapkan dalam proses pembelajaran petani disesuaikan dengan siklus agribisnisnya dari hulu hingga ke hilir sehingga prinsip belajar sambil berusaha tani dapat dikembangkan.

Lebih lanjut LO FEATI Kab Maros Ir.Gusti Aidar menyatakan BPTP terbuka bagi petani dan pihak pemangku kepentingan mana saja yang bersedia mentrasfer teknologi yang dimiliki oleh BPTP. Bahkan BPTP sangat konsen untuk mengembangkan jejaring dalam rangka pengembangan informasi dan teknologi kepada petani. Acara ini diakhiri dengan panen Tomathasil demplot Teknologi PHT.Acara ini dimoderatori oleh Koordinator BPP Tanralili dan Penyuh Pertanian Ir.Dewi Chik.

REORIENTASI FMA

Resensi Pedoman Baru FMA (Farmer Managed Extension Activities)

Oleh Ir.Muhammad Irdan AB

Hasil Supervisi Bank Dunia menemukan kualitas dari proses pengembangan proposal FMA (Farmer Managed Extension Activities) di tingkat desa masih rendah yang antara lain disebabkan oleh (1) Tingkat pemahaman penyuluh Desa dan petani pemandu dalam implementasi FMA masih rendah, (2) Terburu-burunya pelaksanaan PRA dan penyusunan programa penyuluhan desa yang dipacu target penyerapan biaya, (3) Juga diindikasikan PRA tidak dilaksanakan dengan semestinya, baik dalam pengumpulan data maupun dalam interpretasi hasil PRA, sementara itu ada dugaan bahwa Tim Verifikasi belum berfungsi optimal dalam meloloskan atau menolak proposal yang diajukan. Secara faktual, konsep dan metodologi FMA di tingkat lapangan di hampir seluruh Kabupaten lokasi Program FEATI belum diterapkan secara taat azas, dan belum berorientasi pada pengembangan agribisnis yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan petani sehingga memerlukan upaya berupa tindakan korektif terhadap peraktek penerapannya di tingkat lapangan sebelum implementasi FMA Siklus II (Tahun 2009).

Berdasarkan hal tersebut maka Tim FEATI Pusat (CPMU) melakukan reorientasi FMA melalui perubahan Pedoman FMA yang memberikan penekanan pada orientasi agribisnis. Maka konsep FMA yang pada mulanya dianggap sebagai konsep penyuluhan semata, kini berkembang menjadi konsep penyuluhan dan agribisnis pedesaan. FMA adalah proses perubahan perilaku, pola pikir, dan sikap petani dari petani subsisten tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis melalui pembelajaran yang berkelanjutan dilaksanakan dengan pendekatan belajar sambil berusaha (learning by doing) yang menitikberatkan pada pengembangan kapasitas managerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan pelaku utama dalam rangka mewujudkan wirausahawan (enterpreneur) agribisnis yang handal. Jadi output yang diharapkan bukan sekedar pengembangan aspek PSK (Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan) petani dalam hal produksi pertanian, akan tetapi dari proses pembelajaran ini secara rill diharapkan mampu membangun agribisnis dari hulu sampau ke hilir.

Terkait dengan hal tersebut dalam kerangka logis FMA, telah dipatok target akhir yang merupakan indikator (parameter) keberhasilan FMA Desa pada akhir program, antara lain (1) 80% pelayanan penyuluhan desa berfungsi dgn predikat memuaskan, (2) 70% penyuluh dan anggota organisasi petani di wilayah FEATI telah dilatih agribisnis , (3) 70% anggota organisasi petani terlibat dalam kemitraan dgn pihak swasta. Dan dalam pedoman umum FMA yang baru telah ditambahkan indikator keberhasilan FMA Desa antara lain 70 % Petani peserta FMA diharapkan : (1) Memiliki catatan tentang komoditas yang dibutuhkan oleh pasar, (2) Memiliki catatan tentang ketersediaan produk dan potensi yang bisa dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar (3) Memiliki rencana agribisnis (4) Terlibat dalam merumuskan topik, materi pembelajaran dan terlibat dalam penyusunan proposal pembelajaran, (5) Produk/komoditasnya diterima oleh pasar, (6) Memiliki kemampuan organisasi dalam mengelola keuangan dan pengadaan barang serta pemecahan masalah pengelolaan dana FMA. Indikator tersebut tentunya memiliki target-target capaian tahunan (Per siklus), yang menjadi patokan evaluasi progress (kemajuan) capaian program.

Dari indikator FMA di atas, maka kegiatan pembelajaran dalam FMA sebenarnya menitikberatkan pada pengembangan kapasitas managerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan petani sebagai pelaku utama dalam melaksanakan pembelajaran agribisnis berbasis inovasi teknologi.

Dalam metode FMA ini pelaku utama dan pelaku usaha mengidentifkasi peluang, permasalahan dan potensi yang ada pada dirinya, usaha dan wilayahnya, merencanakan kegiatan belajarnya sesuai dengan kebutuhan mereka secara partisipatif dalam rangka mengembangkan agribisnis berskala ekonomi, meningkatkan produktivitas usahanya guna peningkatan pendapatan dan kesejahteraan, sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif dan sesuai dengan kebutuhan pelaku utama.

Proses pembelajaran diawali dengan Kajian Pengembangan Agribisnis Pedesaan secara partisipatif sebagai dasar penyusunan perencanaan usaha dan kegiatan belajar yang berorientasi agribisnis. Selanjutnya petani melakukan penyusunan Rencana Usaha (Kelompok dan Keluarga) sesuai dengan permintaan pasar. Tahap berikutnya dalah penyusunan Programa penyuluhan desa, penyusunan proposal FMA serta Pelaksanaan Kegiatan yang terintegrasi dengan usahan agribisnis petani.

Dampak yang diharapkan oleh berkembangnya aktivitas agribisnis diperdesaan lokasi FEATI yang dicirikan sebagai berikut (1) Adanya kontrak permintaan pasar terhadap produk yang dihasilkan dalam satuan waktu tertentu secara berkesinambungan, (2) Meningkatnya pendapatan dari pelaku utama agribisnis dan keluarganya, (3) Peningkatan produktivitas komoditi unggulan dan diversifikasi usaha (horisontal dan vertikal), (4) Penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan pasar, ramah lingkungan dan Iebih menguntungkan, (5) Peningkatan jaringan kemitraan agribisnis antar organisasi petani dan dengan pelaku usaha lainnya dalam mengembangkan agribisnis diberbagai tingkatan mulai tingkat desa, kabupaten, dst, (6) Meningkatnya kemandirian dan keswadayaan organisasi petani dalam mengembangkan agribisnis dan penyuluhan berdasarkan kebutuhan petani (Farmer Led Extension), (7) Pemilihan komoditi yang diusahakan menjadi unggulan desa, (8) Produk yang akan dihasilkan sudah terjamin pemasarannya (sejak proses perencanaan usaha), (9) Berperannya organisasi petani dalam mengelola penyuluhan di desa, (10) Hasil pelaksanaan agribisnis menguntungkan, (11) Tumbuhnya organisasi petani yang berorientasi agribisnis, (12) Tumbuhnya organisasi petani yang menerapkan prinsip-prinsip penyuluhan berdasarkan kebutuhan petani, dan (13) Jumlah organisasi petani baru yang berfungsi dengan baik.

Demikian hal-hal substansial dan ideal dari Pedoman FMA yang baru yang membutuhkan dukungan stakeholders, karena pada dasarnya kegiatan pemberdayaan berjalan bila semua komponen yang memungkinkan pemberdayaan itu bisa berlangsung, bergerak dengan baik.Namun demikian, logika lapangan terkadang berbeda dengan idealisme Pedum. Untuk mengantisipasi terjadinya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, maka ada baiknya kita mencermati titik-titik krusial yang dapat menjadi faktor pembatas atau penghambat pelaksanaan metodologi FMA. Pertama, aspek managerial proyek yang dimaksudkan untuk memberikan dukungan efiensi dan efektifitas pelaksanaan kegiatan yang terkadang justru manjadi faktor pembatas atau menjadi pelatuk biasnya sasaran program. Misalnya kesiapan Juknis dari segi waktu dan strategi sosialisasi, desseminasi dan implementasinya. Selain itu sinkronisasi kebijakan program dan penganggaran yang proses birokrasinya sering tidak selaras dengan siklus kegiatan di lapangan, sehingga akan muncul target percepatan untuk mengejar deadline penyerapan anggaran yang terkadang mejadi faktor penyebab terpotongnya proses atau tahapan-tahapan pemberdayaan petani sesuai idealisme Pedum. Degan kata lain terkadang di suatu sisi dukungan menagerial proyek terlambat mengantisipasi kebutuhan input program, dilain sisi tuntutan percepatan program selalu mebayang-bayangi pengelola di tingkat lapangan. Kedua, budaya proyek atau mentalitas instan (mencari jalan pintas) dengan target output (hasil) semata dengan mengabaikan Outcome (dampak) pelaksanaan program. Ketiga, Kemampuan fasilitator (TPL dan Petani Pemandu) dalam mengawal kualitas pelaksanaan kegiatan merupakan salah satu titik kritis, karena terkait dengan transfer Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan kepada petani dalam membangun prilaku agribisnis pedesaan. Keempat, sikap transparansi dan akuntabilitas dari segenap pengelola harus tetap terjaga, khususnya dalam membuka akses informasi terhadap segenap pemangku kepentingan yang memungkinkan program ini dapat di usung bersama secara inklusif, sehingga segenap stakeholders merasa memiliki program ini dan merasa bertanggungjawab untuk mensukseskannya.

Mungkin masih terdapat beberapa titik krusial lainnya, namun minimal empat hal di atas dapat diantisipasi sedini mungkin dengan melakukan penguatan strategi implementasi FMA, agar sasaran pemberdayaan agribisnis petani melalui FMA tidak bias lagi.

Kamis, 10 September 2009

Lokakarya Reorientasi FMA

Tim FEATI Pusat (CPMU) telah melakukan reorientasi FMA melalui perubahan Pedoman FMA yang memberikan penekanan pada orientasi agribisnis. Maka konsep FMA yang pada mulanya dianggap sebagai konsep penyuluhan semata, kini berkembang menjadi konsep penyuluhan dan agribisnis pedesaan. FMA adalah proses perubahan perilaku, pola pikir, dan sikap petani dari petani subsisten tradisional menjadi petani modern berwawasan agribisnis melalui pembelajaran yang berkelanjutan dilaksanakan dengan pendekatan belajar sambil berusaha (learning by doing) yang menitikberatkan pada pengembangan kapasitas managerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan pelaku utama dalam rangka mewujudkan wirausahawan (enterpreneur) agribisnis yang handal. Jadi output yang diharapkan bukan sekedar pengembangan aspek PSK (Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan) petani dalam hal produksi pertanian, akan tetapi dari proses pembelajaran ini secara rill diharapkan mampu membangun agribisnis dari hulu sampau ke hilir.

Terkait dengan hal tersebut di atas, untuk menindaklanjuti perubahan Pedoman Umum FMA, tanggal 10 September 2009 telah berlangsung kegiatan Pertemuan Sosialisasi dan Reorientasi Pedoman FMA di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros, yang diikuti oleh Pelaku proyek di tingkat Kabupaten (DPIU dan Tim Verifikasi) dan Kecamatan (BPP). Pertemuan dibuka oleh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Maros (Ir.Ansharullah.MM), didampingi oleh P2K FEATI Maros (Ir.Alfian Amri MSi) dan dipandu oleh Koordinator FMA Kabupaten Maros (Asmuri.SPi) dan Konsultan FEATI Kabupaten Maros (Ir. Muhammad Irdan AB). Pertemuan ini membahas tentang evaluasi pelaksanaan FMA Desa tahun 2008, kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi Pedoman Umum FMA yang baru sebagai jawaban terhadap permasalahan di lapangan, pemaparan indikator keberhasilan FMA untuk bahan evaluasi, dan Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan workplan masing-masing Kecamatan ( BPP) sebagai rencana kerja tindak lanjut dan strategi implementasi FMA di tingkat lapangan.

Rencananya dalam waktu dekat, setiap kecamatan akan melakukan pertemuan reorientasi FMA di setiap BPP (Balai Penyuluhan Pertanian dengan menghadirkan pelaku FMA Kecamatan (PPL) dan Pelaku FMA Desa (Pengurus Posluhtan dan Penyuluh Swadaya). Diharapkan dengan adanya sosialisasi dan reorientasi FMA ini, proses pelaksanaan FMA yang berbasis kepada pengembangan agribisnis pedesaan bisa mulai di kembangkan pada kegiatan FMA Tahun 2009 (Siklus II).

Kepala Bapel Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros mengharapkan implementasi metode FMA dapat diterapkan secara taat asas sesuai dengan tahapan proses yang telah ditetapkan di dalam pedoman umum dan diharapkan sluruh Posluhtan di kabupaten Maros mampu mencapai target penyerapan dana grant FMA 100 % hingga medio desember 2009.

Kamis, 03 September 2009

Pelantikan Kepala Badan

Tanggal, 01 September 2009 Bertempat di Ruang pertemuan Bupati Maros, Bupati melantik Ir.H.Ansarullah,MM sebagai Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros dan Ir. M. Alfian Amri,M.Si sebagai Sekretaris Badan. Dalam arahannya Bupati mengingatkan bahwa jabatan yang diemban sebagai pejabat merupakan amanah untuk itu diharapkan agar dpt menjaga amanah tersebut dengan baik. Berbuat dan bertindak yang terbaik untuk kelembagaan yang dipimpin agar program pemkab dan pemerintah pusat dapat terlaksana secara sukses. Hal ini berarti bahwa dengan dilantiknya keduanya sebagai petinggi di Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros semoga membawa angin segar bagi penyelenggaraan penyuluhan di Kab. Maros. Mengingat bahwa kedua pejabat yang dilantik sebelumnya merupakan pejuang - pejuang penyuluhan pada saat awal kemandirian lembaga penyuluhan yg pada saat itu masih bernama Balai Informasi Penyuluhan Pertanian (BIPP).

Rabu, 15 Juli 2009

PRA, ... Perlukah ?

Sebuah Renungan Untuk Pemberdayaan Petani

Oleh Ir.Muhammad Irdan AB

Saat ini, di beberapa desa pelaksana program FMA (Farmer Managed Extension Activity) di Kabupaten Maros, sementara berlangsung kegiatan perencanaan penyuluhan (pembelajaran) petani secara partisipartif yang di lakukan oleh petani secara mandiri, difasilitasi oleh PPL dan Petani Pemandu (Penyuluh swadaya) dan dimulai dengan kegiatan penggalian gagasan masyarakat tani dengan menggunakan metode PRA (Partisipatory Rural Appraisal).

PRA atau apapun istilah lainnya, adalah teknik sederhana yang mempermudah warga menggali gagasan (kebutuhan) nya dengan melihat dan mengidentifikasi sendiri permasalahan dan potensinya, sekali gus membangun partisipasi, kerjasama dan dinamika warga. Hal itulah yang nantinya membatu mereka untuk membuat rencana secara rasional (sesuai kebutuhan) dan realistik (sesuai kemampuan sumberdaya yang dimiliki).

Semua instrument PRA, pada hakekatnya memiliki dua fungsi, Pertama mempermudah menggali potensi dan permasalahan yang selanjutnya menjadi acuan membuat daftar gagasan, Kedua membangkitkan partisipasi dan kerjasama warga.

Pada akhirnya PRA diharapkan bisa membangun prilaku warga, khususnya membangun kemampuan Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan serta melembagakan kerjasama warga. Hasil dari PRA menjadi bahan baku perencanaan. Maka semakin mendalam kita melakukan analisis PRA, maka perencanaan yang dilakukan akan semakin menjawab permasalahan dan kebutuhan.

Lalu apakah masyarakat kita khususnya petani yang menjadi sasaran program pemberdayaan merasa penting untuk melaksanakan PRA sebagai metode penggalian aspirasi mereka itu ? Sesuatu biasanya dianggap penting dan mempunyai daya tarik, apabila hal itu bisa dirasakan manfaatnya oleh petani.

Setelah melakukan kunjungan ke berbagai Posluhtan (konsorsium petani di desa), penulis mengamati masih banyak warga tani yang telah diperkenalkan konsep PRA itu bersikap apatis atau kurang memandang arti pentinya PRA. Hal ini bisa diukur dari animo untuk berpartisipasi pada kegiatan PRA masih sangat minim. Mengapa ? Realitas lapangan menunjukkan bahwa PRA yang dilaksanakan selama ini belumlah PRA yang terbangun di atas kesadaran kritis warga tani. Baru sekedar paket kegiatan yang terlaksana di atas kesadaran mekanistis, bahkan lebih cendrung lagi kepada mobilisasi petani yang menggunakan “PRA” sebagai judul. Maka wajar jika prilaku petani yang kemudian terbangun adalah keterampilan mengisi format blanko isian yang baku tapa disertai pendalaman makna dan esensi kegiatan tersebut. Proses pembelajaran kurang menyentuh aspek sikap yang terkait dengan perubahan paradigma, norma, dan substansi kegiatan untuk menciptakan kemandirian petani. Apalagi bila dikaitkan dengan target percepatan penyerapan dana BLM-FMA, maka realitas pelaksanaan PRA menjadi instan sifatnya. Sasaran kegiatan lebih berfokus kepada output (hasil) ketimbang outcome (dampak). Tingkat partisipasi yang terbangunpun lebih cenderung bersifat eksklusif dan masih didominasi oleh segelintir pengurus Posluhtan.

Itulah sebabnya maka PRA dianggap sebagai hal yang mubassir, buang-buang waktu, bahkan hanya menambah sikap ketergantungan petani. Bagaimana mungkin membangun prilaku mandiri petani jika telah diawali dengan proses pembelajaran yang sifatnya meknistis-pragmatis, dimana penerapan metodologi pembelajaran dan pemberdayaan seperti PRA dimaknai hanya sebagai sebuah “paket” prasyarat untuk menadah dana bantuan dari atas.


Masih segar dalam ingatan penulis di awal era tahun 80-an ketika PRA menjadi sebuah kisah sukses pemberdayaan masyarakat yang dipelopori oleh NGO, ingin di adobsi dan diaplikasi oleh berbagai proyek pemberdayaan masyarakat, berbagai aktivis pelopor pelaksanaan PRA waktu itu memiliki kekhawatiran bahwa suatu saat PRA akan mengalami bias, dan akan menjadi kontraproduktif dengan tujuan semula untuk memandirikan warga, bila ia dilaksanakan dengan cara-cara yang instan. Mobil pelastik (mainan anak) tentulah tidak sama dengan mobil sungguhan, begitu juga PRA Plastik tidak sama dengan PRA yang sungguh-sungguh, atau PRA yang totalitas. Kekhawatiran itu saat ini sudah menunjukkan gejalanya.

Mengapa sebahagian petani merasa tidak penting melaksanakan PRA itu ? Mungkinkah PRA yang mereka rasakan selama ini adalah PRA Plastik yang tidak mempunyai daya tarik dan tidak dirasa mamfaatnya bagi mereka ? Ataukah kita akan berkesimpulan bahwa PRA sebagai salah satu metode pemberdayaan itu tidak urgent ?

Jawabnya PRA yang sesungguhnya sudah dipraktekkan di berbagai dataran di negara kita dan menghasilkan best praktice (praktek-praktek terbaik) dan telah menggores sukses story pemberdayaan masyarakat, tetapi itu bukan PRA Plastik. Dan sejak diperkenalkannya program-program pembangunan yang bersifat DOUM (Dari, Oleh dan Untuk Masyarakat), diakui oleh banyak pihak bahwa PRA itu adalah “barang bagus”. Lalu dimanakah akar masalahnya sehingga PRA kebanyakan itu menjadi PRA Plastik ?

Kalau kita menghitung-hitung titik-titik krusial program-program yang berlabel “pemberdayaan masyarakat”, maka yang paling banyak menjadi faktor penyebab biasnya program pemberdayaan adalah budaya instan dan mentalitas proyek.

Pemberdayaan adalah membagkitkan kesadaran kritis masyarakat untuk berfikir menolong dirinya sendiri, dan fasilitator pemberdayaan adalah pihak yang bertugas membuka ruang-ruang yang memungkinkan kesadaran itu bisa bangkit. proses itu kemudian dilanjutkan dengan membangkitkan kemampuan lewat proses pembelajaran yang mencerahkan melalui strategi komunikasi yang partisipatif. Jadi yang dilakukan bukanlah menyuap petani, karena metodologi menyuap atau mendikte sama dengan mencuri hak-hak dan kesempatan belajar bagi petani. Karena ini “pembelajaran”, maka orientasi utama kita adalah proses. Memotong tahapan proses pemberdayaan, dengan alasan mengejar target, sama dengan melakukan pembantaian terhadap kesempatan petani untuk mandiri.

Jadi akar masalahnya adalah persoalan penerapan “strategi” pemberdayaan yang lebih banyak berorientasi kepada output (hasil) dari pada outcome (dampak).

Tulisan ini hanyalah sekedar renungan yang tidak berpretensi menyalahkan “pihak” manapun terhadap adanya gejala mis-pemberdayaan di lapangan, tulisan ini hanyalah sekedar gelitik dan bahan dialog bagi fasilitator untuk mengantisipasi terjadinya mis-pemberdayaan bagi program yang berjudul “pemberdayaan”, agar tidak terjatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya. Ada beberapa solusi yang bisa diikhtiarkan untuk mensukseskan FMA, khususnya PRA dalam membangun prilaku petani secara komprehensif diantaranya, Pertama, memahami bahwa pemberdayaan petani adalah usaha yang bersifat totalitas dan tuntas, maka perlu menggerakkan semua lingkungan yang memungkinkan pemberdayaan itu bisa terbackup dengan tetap mengedepankan tumbuhnya dinamika emosional, jiwa pengabdian, dan mengantisipasi tumbuhnya mentalitas proyek serta budaya instan (jalan pintas) untuk mencapai tujuan. Kedua, perlunya revitalisasi strategi pemberdayaan, intensitas sosialisasi, penyegaran (refreshing) strategi komunikasi bagi petugas dan fasilitator yang akan berinteraksi langsung dengan petani, dengan tidak mentolerir adanya budaya instan. Ketiga pengayaan referensi dan manual teknik fasilitasi yang bersifat partisipatif, agar pemahaman petugas dan petani tentang penerapan metode FMA, libih komprehensif dan tidak terpahami secara parsial. Keempat, sosalisasi dan desseminasi program hendaknya lebih menekankan kepada substansi dan prinsip pemberdayaan petani dengan fokus membangun kesadaran kritis, menumbuhkan kemampuan petani dalam proses pembelajaran yang partisipatif dan memberikan muatan-muatan pengalaman, mengembangkan kelembagaan dan jejaring petani, agar petani dapat menjadi mandiri sebagai pelaku utama usaha taninya. Hanya dengan kerja yang totalitas dan tuntas sasaran pemberdayaan dapat dicapai.

Senin, 22 Juni 2009

Pertemuan Pembentukan Asosiasi Petani Tingkat Kabupaten

Pertemuan pembentukan organisasi petani (FMA kabupaten) yang dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2009 (satu hari) dibuka oleh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros (Ir. H.Ansarullah, MM) yang didampingi oleh P2K FEATI Maros Ir. M.Alfian Amri,M.Si dan ASmuri,S.Pi selaku Ketua Panitia Pelaksana.

Peserta yang hadir pertemuan ini berasal dari segenap pengurus pengelola FMA lokasi Feati sebayak 60 orang terdiri dari laki-laki 52 orang (87%) dan 13 orang perempuan(13%) yang berasal dari Ketua Posluhtan Desa/Pengelola FMA desa dari 60 desa lokasi FEATI kabupaten Maros.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Badan PP&KP Kab. Maros didampingi oleh P2K FEATI yang difasilitasi oleh DPIU dan Konsultan Feati Kabupaten Maros.

Kegiatan pertemuan pembentukan organisasi petani tingkat kabupaten telah membentuk asosiasi petani yang diberi nama ASOSIASI PETANI RAMAH LINGKUNGAN.

Struktur organisasi terdiri dari Ketua Umum : M. Idrus, Wakil Ketua I : M. Natsir Asis, S.Ag (Membidangi SDM, dan sebagai Koordinator Wilayah I), Wakil Ketua II : H. Rani BA (Pengembangan Komoditi, Koordinator Wilayah II ), Wakil Ketua III : Makmur, SE (Pemasaran Hasil, Koord. Wilayah III), Sekretaris : M. Yasir, SE, Bendahara : Dra. Salwiah Nur, Koordinator Seksi : Muh. Azis

Tujuan dibentuknya organisasi FMA tingkat kabupaten adalah sebagai wadah organisasi untuk menghimpun aspirasi pengelola FMA desa dalam melaksanakan kegiatannya, untuk peningkatan kesejahteraan petani dan keluarganya. diharapkan asosiasi ini akan berperan memfasilitasi kemitraan dan penguatan akses petani terhadappasar dan teknologi.

Disamping itu sebagai perpanjangan tangan Posluhtan desa di tingkat kabupaten. asosiasi diharapkan mampu menfasilitasi kegiatan FMA untuk melakukan peran dan akses ke tingkat yang lebih tinggi, misalnya untuk memenuhi kebutuhan sarana-dan prasarana kegiatan seperti pengadaan bibit, pakan, pupuk, obat-obatan dan lain-lain.

Assosiasi ini di kukuhkan dengan berita cara pembentukan. dan selanjutnya akan diusahakan berbadan hukum.

Ir. Muh. Irdan AB selaku Konsultan FEATI Kab. Maros memaparkan bahwa FMA adalah proses pembelajaran yang bertujuan mengembangkan kapasitas petani dan kelembagaan petani. Programa penyuluhan tingkat desa merupakan program yang perlu terus dikawal dan dikuatkan kelembagaannya. Dan yang menjadi kebutuhan saat ini adalah organisasi atau asosiasi petani yang bersifat spesifik dan tidak terlalu general sifatnya sehingga petani bisa fokus kepada pengambangan usaha agribisnis.

Dafep sudah mengambangkan program penguatan kapasitas petani dalam hal pengembangan budidaya, maka sejatinya dilanjutkan dang pengembangan pola agribisnis melaui program feati. Pengembangan organisasi/assosiasi yang berorientasi agribisnis komoditi), diharapkan dapat mengakomodir kegiatan-kegiatan yg sudah dilaksanakan.

Kamis, 18 Juni 2009

Pelatihan Tekhnis Spesipik Lokalita

PELATIHAN TEKNOLOGI BUDIDAYA JAGUNG

Pelatihan teknis spesifik lokalita bagi penyuluh pertanian angkatan III dilaksanakan tanggal 14 – 17 Juni 2009 di Hotel Mutiara Khadijah Sudiang Makassar, diikuti sebanyak 25 peserta.

Panitia penyelenggara diketuai oleh H. Bonto Burhan SH.MH, dengan jumlah fasilitator yang terlibat sebanyak 18 orang (3 diantaranya adalah perempuan), yang berasal dari BALITSEREAL, BPTP Sulsel, BPSB Maros, Kadis Pertanian Maros, Kepala Bidang pada Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan, Penyuluh Pertanian, P2K, P3TIP, PIU P3TIP Kab. Maros.

Jenis materi meliputi kelompok dasar antara lain kebijaksanaan penyuluhan pertanian, pengembangan tanaman jagung dan program P3TIP sedang kelompok inti yang terdiri dari teknologi budidaya jagung, hama dan penyakit jagung, dan agribisnis tanaman jagung ditambah dengan sistim pengelolaan FMA desa, praktek lapang dan repleksi hasil praktek, untuk kelompok penunjang terdiri dari pengintegrasian gender dan lain-lain.

PROSES PELAKSANAAN
Pelatihan tersebut dibuka oleh Bapak Ir. M. Alfian Amri, M.Sc (P2K FEATI Maros), sedang praktek lapang dilaksanakan tanggal 22 dan 23 Juni 2009, dilanjutkan dengan penyusunan laporan, presentase/repleksi hasil praktek sampai tanggal 25 Juni 2009.

Pelatihan ditutup oleh Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros (Ir. H. Ansarullah, MM) pada tanggal 27 Juni 2009 jam 11.30 wita.
Pelaksanaan praktek lapang untuk peserta pelatihan Teknis teknologi budidaya jagung dilaksanakan di Balitsereal dan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Maros.

Materi kunjungan di BALITSEREAL meliputi :

- Laboratorium lapangan dengan melihat pertanaman jagung
- Pengolahan hasil jagung dengan melihat alat tanam, alat pengolahan hasil (pemipil)
- Pengeringan Dan lain-lain.

Pada Balai Proteksi Tanaman Pangan meliputi :
- Laboratorium lapangan dengan melihat contoh tanaman yang dapat dijadikan sebagai bahan baku pestisida nabati seperti Nurba, Serai, dan lengkuas.
- Pembuatan pupuk cair dengan bahan baku buah-buahan seperti nenas, nangka, mangga dll dipandu oleh Andi Rugaya.
- Laboratorium Fungsional, peserta melihat bagaimana mengawetkan sample tanaman yang terserang hama dan penyakit dipandu oleh Sirajuddin .
- Laboratorium Agensi dipandu oleh Imam Hidayat dengan melihat cara pembuatan Tricoderma yang dapat mengendalikan hama ulat grayak, walang sangit, wereng coklat dan kresek.
Peserta dibagi kedalam 5 kelompok kerja dengan anggota masing-masing 5 orang yang bekerja sama baik didalam kelas maupun dilokasi praktek sampai penyusunan laporan dan repleksi hasil praktek.
Sebelum acara penutupan masing – masing peserta membuat RTL dan evaluasi pelaksanaan pelatihan.

Output yang diharapkan dari pelatihan tekhnis spesifik lokalita ini adalah terlatihnya penyuluh pertanian sebanyak 75 orang ( 25 x 3 Angkatan ) sebagai calon fasilitator yang memiliki kemampuan / pemahaman tentang tekhsis spesifik lokalita pada budidaya padi, penggemukan sapi dan budidaya jagung, dan mampu menerapkan teknis budidaya untuk mefasilitasi dalam pelaksanaan kegiatan FMA, mampu menggunakan alat bantu dan mampu memfasilitasi proses pembelajaran secara partisipatif, dan mampu mendampingi petani dalam mengelola usaha taninya.

Minggu, 14 Juni 2009

Pelatihan Tekhnis Spesipik Lokalita

PELATIHAN TEKNOLOGI PENGGEMUKAN SAPI

Pelatihan tekins teknologi Penggemukan Sapi angkatan II berlangsung dari tanggal 31 Mei hingga 13 Juni 2009 di Hotel Darma Nusantara dengan panitia penyelenggara Ir. Halilintar diikuti oleh peserta sebanyak 25 orang terdiri dari laki – laki 19 orang dan perempuan sebanyak 6 orang

Jumlah Fasilitator yang terlibat dalam pelatihan ini sebanyak 21 orang termasuk Perempuan 3 orang. Prof. Dr. Ir. Syamsuddin Rasyid, M.Sc dan Prof. Dr. Ir. MS. Efendi Abustam, M.Sc, peneliti BPTP, dokter hewan dari Balai Besar Veteriner Maros orang dan beberapa petugas teknis dan laboran, Penyuluh pertanian Kabupaten, Pejabat Pembuat Komitmen ( P2K ), serta PIU P3TIP/FEATI.

Materi yang disajikan oleh narasumber terdiri dari kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang dengan jumlah jam berlatih sebanyak 112 jam.

A.Kelompok Dasar terdiri dari :
- Kebijaksanaan penyuluhan pertanian di Kabupaten Maros
- Kebijaksanaan pembangunan peternakan di Kabupaten Maros
- Kebijaksanaan program P3TIP/FEATI Kabupaten Maros

B.Kelompok inti ( teknis ) :
- Sistim penggemukan ternak sapi
- Pemilihan bibit sapi bakalan
- Penyediaan dan pengelolaal pakan ternak sapi
- Penyediaan kandang penggemukan
- Pengenalan penyakit dan pencegahan/pengobatan
- Pasca panen dan pengolahan hasil
- Menghitung pendapatan usaha tani penggemukan
- Teknik fasilitasi petani
- Penyuluhan pertanian secara partisipatif
- Dasar dan teknik verifikasi proposal
C.Kelompok Penunjang :
- Dinamika kelompok
- Pengintegrasian gender dalam penyuluhan pertanian
- Kegiatan praktek lapangan yang dilaksanakan pada dua lokasi yakni lahan praktek fakultas peternakan UNHAS dan Laboratorium Pengolahan hasil ternak fakultas peternakan UNHAS. Selain itu praktek di kandang-praktek Balai Besar Veteriner dan Laboratorium serta dilanjutkan dengan repleksi hasil praktek lapangan.

Praktek lapang dilaksanakan selama 2 ( dua ) hari yakni tanggal 6 Juni 2009 dilaksanakan di lahan praktek fakultas peternakan UNHAS pada kebun bibit rumput dengan menghitung produksi dan produktifitas lahan HMT, pembuatan silase dan pengelolaan kandang ternak yang didampingi salah satu dosen pengelola hijauan pakan ternak ( Dr. Ir. Abd. Latif Fattah, M.Si ), serta dilaboratorium Pengolahan Hasil Ternak Fakultas Peternakan UNHAS untuk praktek mengolah daging dan pembuatan bakso, nuget dan lain-lain yang juga didamping salah satu dosen penanggung jawab laboratorium ( Hikmah, SPt, M.Si). Pada tanggal 9 Juni 2009 dilaksanakan praktek lapangan di kandang praktek Balai Besar Veteriner Maros untuk belajar menangani sapi untuk penyuntikan, pemberian obat dan lain-lain didampingi 4 orang teknisi BBVet (dikoordinir oleh Drh. Tangguh ), dilanjutkan dengan mengunjungi 7 unit laboratorium dalam lingkup BBVet, untuk mengamati dan berdiskusi tentang teknik penyidikan penyakit ternak yang dipandu oleh masing-masing petugas/dokter hewan (laboran). Setiap kelompok memasuki salah satu lab.secara bergiliran sehingga diakhir praktek seluruh kelompok telah memasuki seluruh laboratorium secara bergantian. Hasil praktek dibuat dan disusun dalam bentuk laporan kegiatan praktek yang selanjutnya di diskusikan/ dipresentasikan dalam refleksi praktek lapang dan sekaligus menjadi laporan akhir tiap kelompok.
Sebelum acara penutupan dilaksanakan pada tanggal 13 Juni 2009, didahului dengan RTL dan evaluasi pelaksanaan pelatihan.

Pelatihan Tekhnis Spesipik lokalita

PELATIHAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI

Pelatihan teknis spesifik lokalita bagi penyuluh pertanian angkatan I (Pertama) dilaksanakan tanggal 14 – 17 Juni 2009 di Hotel Mutiara Khadijah Jl. Bakung Sudiang Makassar dengan panitia penyelenggara diketuai oleh H. Bonto Burhan SH.MH, dengan jumlah peserta sebanyak 25 orang.

Fasilitator dan Narasumber yang terlibat dalam pelatihan ini berasal dari beberapa instansi terkait diantaranya adalah dari Balai Penelitian Jagung dan serealia (BALITSEREAL), Balai Proteksi, BPTP Sulsel, BPSB/UPTD BPTPH Sulsel, Kadis Pertanian TP Maros, Badan Penyuluhan Pertanian, Penyuluh Pertanian senior, PIU P3TIP dari P2K P3TIP/FEATI.

Jenis materi yang disajikan meliputi kelompok dasar, kelompok inti dan kelompok penunjang dengan jumlah jam berlatih sebanyak 112 jam.

Kelompok Dasar terdiri dari :
- Kebijaksanaan penyuluhan pertanian di Kabupaten Maros
- Kebijaksanaan pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura kabupaten maros
- Kebijaksanaan program P3TIP/FEATI Kabupaten Maros

Kelompok inti ( teknis ) :
- Teknologi benih dan varietas padi unggul
- Persemaian dan sistim Sri dan Legowo
- Teknologi hara dan pemupukan tanaman padi
- Teknologi hemat air dalam budidaya padi
- Inplementasi pengendalian OPT
- Teknologi penanganan pasca panen padi
- Hubungan iklim terhadap tanaman dan OPT
- Teknik fasilitasi petani
- Penyuluhan pertanian secara partisipatif
- Agribisnis usaha padi
- Dasar dan teknik verifikasi proposal
C.Kelompok Penunjang :
- Dinamika kelompok
- Pengintegrasian gender dalam penyuluhan pertanian
- Cara penyajian dalam kelas dengan metode cerama, diskusi dan tanya jawab serta persentasi tugas-tugas.

Pelatihan dibuka oleh Bapak Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kab. Maros ( Ir.H. Ansarullah, MM). dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Kepala Badan sesuai dengan jadwal yang telah disusun.
Penyampaian materi dengan metode ceramah, curah pendapat, diskusi dan praktek lapangan di Balitsereal dan balai proteksi Maros.
Praktek lapang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 9 dan 10 Juni 2009 berlokasi di Balitsereal, Balai Proteksi Tanaman Pangan, dan Balai Sertifikasi Benih (BPSB) dengan obyek kunjuungan sebagai berikut :
Balitsereal : pertanaman padi IP 300 da 400, sistim tanam legowo 2 : 1 dan 4 : 1, mesin pengering gabah dengan BBM, sistem pengeringan dengan tenaga surya.
Balai Proteksi : laboratorium, pengenalan jenis hama dan penyakit, agency hayati.
Balai sertifikasi Benih : prosedur pengajuan/ permohonan sertifikasi benih/benih berlabel, teknik uji kecambah dan teknik pengukuran kadar air.
Peserta dibagi kedalam 5 kelompok atau masing-masing 5 orang, yang diharapkan dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan praktek lapang dan selanjutnya akan membuat laporan hasil pelaksanaan praktek lapang yang akan dipresentasikan didepan kelas seuai jadwal refleksi hasil praktek lapang.

Senin, 01 Juni 2009

PEMBUKAAN PENAWARAN LELANG

Setelah diadakan pengumuman pelelangan pengandaan barang dan jasa rehabilitasi dan pembangunan BPP Maros Program P3TIP/FEATI TA. 2009. Maka pada hari Selasa, 26 Mei 2009 bertempat di Aula Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan (BPP & KP) Kabupaten Maros, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa pada Program FEATI Kabupaten Maros telah melaksanakan pembukaan surat penawaran pengadaan jasa konstruksi Pembangunan Gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Tompobulu, Moncongloe, Camba, Turikale, dan Rehabilitasi Gedung Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Mandai, Bantimurung, Maros Baru dan Lau Kabupaten Maros bersumber dari anggaran Program FEATI Tahun Anggaran 2009.
Hasil Pembukaan Surat Penawaran, adalah sebagai berikut :
1.Sampai batas akhir pemasukan penawaran tangal, 26 Mei 2009, Pukul 10,00 Wita, Penyedia Barang/Jasa yang memasukkan dokumen penawaran sebanyak 7 (tujuh) perusahaan.
2.Pada saat pembukaan penawaran, ternyata dari 7 (tujuh) penawaran tersebut, dinyatakan lengkap dan tidak ada penawaran yang dinyatakan tidak lengkap.
3.Penyedia Barang/Jasa yang mengundurkan diri tidak ada.
Adapun perusahaan yang memasukkan penawaran adalah sebagai berikut :
1.PT. Kriyavista Raksatama
2.PT. Wira Karsa Konstruksi
3.PT. Tiara Teknik Corporation
4.PT. Multi Engka Utama
5.PT. Wahida Persada
6.PT. Dyan Nugraha Saotanre
7.PT. Karya Sinar Cipta
Menurut Ketua Panitia Tim Pengadaan barang dan Jasa P3TIP/FEATI Kab. Maros Ir. Rohani Asadi yang didampingi oleh Sekretaris Panitia Pengadaan M. Askin Wahab, SP mengatakan bahwa evaluasi dan penentuan pemenang akan diproses lebih lanjut ke FEATI Pusat di Jakarta dengan mendapat persetujuan dari pihak Bank Dunia sebagai pemberi bantuan. Muhah - mudahan proses tender ini dapat berjalan dengan lancar hingga adanya penentuan pemenang. Demikian harapan dari panitia lelang FEATI/P3TIP Kab. Maros